Awal Pemberangusan Lagi ?

Sejak awal UU ITE ini keluar, sebenarnya sudah bertanya-tanya, apakah ini merupakan taktik terbaru rezim yang berkuasa untuk melakukan pemberangusan kebebasan warga untuk berpendapat.

Kasus yang baru-baru ini terjadi terhadap ibu Prita Mulyasari semakin meyakinkan saya bahwa memang itulah tujuan dari UU ITE ini. Rasanya kasus ini dijadikan test case bagi kekuatan UU ini, dimana bila berhasil maka pemberangusan yang lebih luas akan dapat dilaksanakan oleh pemerintah terhadap semua bentuk penyebaran informasi secara digital melalui internet.

Hal ini terlihat dari begitu sigapnya Kejaksaan Negeri Tangerang menahan dan menempatkan Prita Mulyasari ke Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang semenjak 13 May lalu. Tindakan ini menurut saya terkesan berlebihan karena dua alasan mendasar. Pertama, apa yang dilakukan Prita Mulyasari bukanlah kejahatan yang dapat mengancam nyawa seseorang atau berpotensi menimbulkan kerugian secara langsung sehingga harus segera diamankan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi. Kedua Prita Mulyasari tidak berpotensi untuk menghilangkan barang bukti.

Hal lain yang menarik perhatian adalah mengapa Kejaksaan tidak memeriksa Omni Hospital untuk mengetahui kebenaran dari apa yang dikeluhkan oleh Prita Mulyasari yang dianggap sebagai pencemaran nama baik oleh Omni Hospital. Logikanya jika Si A menyatakan secara terbuka bahwa  si B adalah maling, dan si B menuntut si A karena mencemarkan nama baiknya, maka yang pertama harus diperiksa adalah apakah si B benar-benar maling, sebelum memeriksa si A untuk kasus pencemaran nama baik. Karena jika si B benar-benar maling, maka apa dinyatakan si A bukanlah suatu bentuk pencemaran nama baik.

Dan sesungguhnya hal ini juga mudah dilaksanakan. Yang perlu dilakukan oleh Kejaksaan hanyalah membaca keluhan yang disampaikan oleh Prita Mulyasari dan membandingkannya dengan catatan medis yang ada di rumah sakit. Dan rasanya untuk hal ini maka Kejaksaan perlu menahan beberapa orang yang terkait dengan administrasi rekam medis dari rumah sakit Omni Hospital untuk mencegah mereka menghilangkan barang bukti.

Terlepas dari semua hal diatas, setelah membaca berulang kali surat Prita Mulyasari yang diklaim sebagai pencemaran nama baik oleh Omni Hospital, sungguh saya tidak dapat menemukan suatu bentuk pencemaran nama baik. Menurut saya surat itu tidak lebih dari sekedar keluhan yang sering disampaikan dalam rubrik surat pembaca di koran-koran. Silahkan anda nilai sendiri berdasarkan surat itu berikut ini:

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya, terutama
anak-anak, lansia dan bayi.

Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title International
karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba
pasien, penjualan obat dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami
kejadian ini di RS Omni International.

Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi
dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS tersebut
berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan
manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39
derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah
thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya
diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib
rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah
saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.
Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan tapi saya
meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu
referensi dr. Indah adalah dr. H. Dr. H memeriksa kondisi saya dan
saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam
berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin
pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi,
dr.H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam
bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget tapi
dr. H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan
berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau
keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap
masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya
sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya
lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat
sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard
Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik
tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya meminta
keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan suster
hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu box
lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan dan
minta ketemu dengan dr. H namun dokter tidak datang sampai saya dipindahkan
ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat
dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah dicek
dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. H saja.

Esoknya dr. H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk
memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya
sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan
berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. H tetap menjelaskan bahwa demam
berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan
kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak
napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya
berkata menunggu dr. H saja. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi
infus padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri
saya.

Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan
suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. H untuk ketemu dengan kami namun
janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak
saya menuntut penjelasan dr. H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab
awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam
riwayat hidup saya belum pernah terjadi.

Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri saya.

Dr, H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut malah
mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan
menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya
dan meminta dr. H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang
pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. Dr. H menyalahkan
bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai
membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau
dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya membutuhkan data
medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis
yang fiktif.

Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu
kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya
samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang
181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan
bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000,
kepala lab saat itu adalah dr. Mdan setelah saya complaint dan marah-marah,
dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di
Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang
memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og
(customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda
terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar
dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service nya
sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda
terima pengajuan complaint tertulis.

Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama Og
(customer service coordinator) dan dr. G (customer service manager) dan
diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan
saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari
lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 makanya
saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya
masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr. G yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint saya
ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi complaint dengan baik,
dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi
informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr.
H namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas
(Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut analisa
ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena
sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki bisa terjadi
impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas mendengarnya dan
benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa
sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis
tinggi sehingga mengalami sesak napas.

Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya
tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000 tersebut
namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan
waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu
kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni
memberikan surat tersebut. Saya telepon dr. G sebagai penanggung jawab
compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya
namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang
kerumah saya. Kembali saya telepon dr. G dan dia mengatakan bahwa sudah
dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS
yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta
disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan
waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas
surat tertujunya kemana kan ? makanya saya sebut
Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan permainan mereka
yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr. G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan
customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr. G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut
dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan
pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen hanya
menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai
kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan
diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari
sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin tahu
bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni
mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan
janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang
sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak
napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani
dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan
asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal
mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Og menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. Bina)
namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka
dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput
atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan
apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup
untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing,
benar…. tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dpercaya
untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah
memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan
kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu
saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang
saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau
dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. G, dr. H, dr.
M dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi
perusahaan Anda.

Saya informasikan juga dr. H praktek di RSCM juga, saya tidak mengatakan
RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

salam,
Prita Mulyasari

Salinan surat ini diambil dari Forum Pembaca Kompas disini. Nama-nama yang terdapat dalam surat tersebut sudah saya samarkan.

Dari surat tersebut, selain faktor emosional dan panjangnya surat tersebut, sejujurnya saya tidak menemukan adanya pencemaran nama baik disitu. Dan dari keterangan yang mendetail yang disampaikan oleh Prita Mulyasari, seharusnya kejaksaan memeriksa terlebih dahulu (dan melakukan penahanan bila perlu) terhadap Omni Hospital untuk mengetahui apakah apa yang disampaikan oleh Prita Mulyasari itu benar atau tidak. Karena bila didapati apa yang disampaikan tersebut benar maka tuntutan pencemaran nama baik itu haruslah gugur dan sebaliknya Omni Hospital harus diperiksa lebih lanjut terhadap kemungkinan malpraktek.

Saya bukan seorang ahli hukum, hanya menyampaikan apa yang saya pikir sesuai dengan logika yang saya punya. Dan berdasarkan logika tersebut, jelas disini bahwa yang tengah terjadi sesungguhnya adalah test case terhadap UU ITE untuk memberangus kebebasan rakyat untuk berpendapat. Modal yang menarik untuk pemerintahan berikut, bukan?

Update:

Tunjukkan dukungan dengan bergabung dalam Causes dan Fanpage di Facebook, dan pasang banner dukungan bagi Prita Mulyasari. Dukungan ini bukanlah sekedar dukungan bagi Prita Mulyasari sebagai perorangan namun juga dukungan bagi keberlanjutan kebebasan berekspresi yang sudah kita nikmati.

Advertisements

About this entry