Why We Fight

Dalam Miniseri Bands of Brothers Di Episode 9 : Why We Fight, digambarkan bagaimana Pasukan Sekutu dalam hal ini diwakili oleh Easy Company masuk ke Jerman yang sudah kocar-kacir. Semangat pasukan menggelora, setelah sebelumnya mereka menghadapi masa-masa sulit, seperti yang digambarkan dalam episode sebelumnya, seperti saat D-Day, Pendaratan di Belanda serta pengepungan Bastogne.

Pasukan Jerman menyerah dalam jumlah besar (dalam episode 10 ini digambarkan sampai 300.000 pasukan menyerah) dan secara moral Easy Company dilanda euphoria, yang sampai mendorong mereka melakukan penjarahan. Euphoria ini terhenti, ketika dalam suatu patroli mereka menemukan sebuah kamp konsentrasi kecil, dengan pemandangan yang memilukan. Mayat-mayat telanjang dan kurus kering bertumpukan, ruangan yang dijejali orang-orang yang sakit, serta wajah-wajah survivor yang kurus kering akibat penyekapan mereka di dalam kamp konsentrasi tersebut.

Pemandangan ini menyadarkan Pasukan Sekutu mengenai tujuan mereka berperang. Yaitu melawan tindakan Jerman yang bertentangan dengan peri-kemanusiaan. Disadarkan bahwa Jerman sesungguhnya hanyalah sebuah icon dari kekuatan yang melakukan kesewenang-wenangan dan diskriminasi.

Hari ini tanggal 3 Juni 2009, keluar berita yang menggembirakan. Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI dan Calon Presiden RI untuk Pemilu 2009 mengeluarkan pernyataan bahwa beliau menjaminkan dirinya untuk pembebasan Prita Mulyasari dari tahanan Kejaksaan Negeri Tangerang. Selain itu juga ada berita bahwa Calon Presiden Megawati Soekarnoputri akan menjenguk Prita.

Sebuah kabar yang tentunya cukup menggembirakan. Paling sedikit terdapat perhatian dari para Calon Presiden atas perkara ini. Tentunya dengan catatan tebal dibawahnya bahwa hal ini hanya akan menjadi suatu hal yang benar-benar menggembirakan bila atas intervensi mereka Prita Mulyasari dapat dibebaskan dari tahanan. Karena bila hanya sebuah pernyataan tanpa tindak lanjut maka hal ini tidaklah lebih daripada sebuah kampanye untuk menarik simpati. Dan itu merupakan kampanye yang akan berakhir buruk karena hanya mempermainkan emosi dari pihak keluarga Prita Mulyasari yang sangat menantikan pembebasan Prita.

Kejadian ini, terutama jaminan dari Jusuf Kalla untuk pembebasan penahanan Prita Mulyasari, sesungguhnya bukanlah solusi ideal atas kasus ini. Jaminan Jusuf lebih merupakan jalan pintas, untuk dapat segera membebaskan Prita Mulyasari. Mengingat yang sesungguhnya diperlukan adalah perbaikan menyeluruh terhadap UU ITE yang digunakan sebagai landasan untuk menuntut Prita Mulyasari dalam kasus ini. Namun demikian atas nama kemanusiaan, inisiatif dari Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnoputri ini merupakan inisiatif yang patut diapresiasi.

Lepas dari fakta tersebut, satu hal yang tidak dapat begitu saja kita abaikan. Sesungguhnya perlawanan ini bukanlah hanya sekedar perlawanan untuk membebaskan Prita. Perlawanan ini bukanlah hanya sekedar perlawanan untuk membatalkan tuntutan hukum atas diri Prita Mulyasari. Perlawanan ini lebih dari itu semua adalah perlawanan terhadap upaya untuk memberangus kebebasan warga untuk berekspresi, untuk mengeluarkan pendapat. Tanpa perbaikan menyeluruh terhadap masalah mendasarnya, kita akan kembali melihat Prita-Prita baru di masa mendatang.

Kita dapat bergembira, bila akibat inisiatif dari Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnopoetri ini Prita Mulyasari dapat segera dibebaskan dari tahanan. Namun kita tidak boleh lupa, bahwa musuh sesungguhnya bukanlah Omni Hospital, yang menanggapi keluhan bekas pasiennya dengan tuntutan hukum, bukanlah Kejaksaan, yang tanpa alasan yang valid telah menahan Prita Mulyasari, namun UU ITE dan upaya-upaya yang dilakukan oleh segelintir kalangan untuk kembali melakukan pengekangan hak warga untuk berekspresi dan mengeluarkan pendapat.

Satu fakta yang harus diingat, bahwa beberapa negara yang bergabung dalam Pasukan Sekutu, saat ini adalah merupakan negara-negara pelanggar perikemanusiaan nomor wahid. Tanpa konsistensi dan tanpa adanya suatu kesadaran mengenai apa yang sesungguhnya kita hadapi, bukan tidak mungkin justru suatu saat kita dapat menjadi pihak yang berusaha mengekang kebebasan berpendapat dan berekspresi orang lain.

Update:

Pukul 16 Wib, Ndorokakung memberitakan di Plurk dan FaceBook bahwa Jusuf Kalla telah menandatangani SP3 dan penahanan Prita Mulyasari ditangguhkan. Masih menunggu penjelasan lebih lanjut, namun ini juga perkembangan yang patut disyukuri.

Update 2:

Pukul 18.30, Tempo Interaktif memberitakan bahwa Prita Mulyasari telah kembali ke rumahnya di Sektor 9 Bintaro, Tangerang.

Advertisements

About this entry