On … Dad

Tertohok membaca postingan desti desti tentang percakapan antara mbak desti dengan ayahnya.

Teringat pada suatu waktu, ketika saya duduk di kelas 6 SD. Saat hendak menggantungkan pakaian, saya berdiri diatas sebuah kursi, dan terjatuh. Tangan saya patah, dan cukup parah. Entah bagaimana, kata-kata yang pertama saya ucapkan adalah panggilan ke Ayah saya. Saat itu beliau tengah membantu ibu saya menyiapkan kulit lumpia untuk dagangan keesokan hari, dan beliau segera mencari saya begitu mendengar saya memanggilnya.

Tidak ada yang aneh sebenarnya mungkin. Kecuali untuk beberapa fakta, seperti bahwa semenjak kecil saya tidak pernah dekat dengan beliau. Bahkan ada masa-masa dimana diluar sapaan pamit berangkat sekolah, tidak ada komunikasi lain yang terjadi diantara kami. Dan setelah peristiwa diatas, hubungan kami kembali seperti semula, sampai hari ini.

Satu cerita lagi tentang hubungan antara saya dengan ayah saya, adalah ketika saya lulus SMA, dan kita sedang dalam perjalanan ke Semarang. Ketika selesai makan siang di Tegal, beliau mengambil uang dari dompetnya, dan memberikannya kepada saya sambil berkata, “Mau ngerokok? Nih, sana beli sendiri” Dan itu adalah pertama kali saya mendapat ijin merokok dari beliau. Yah, saya tahu mungkin hal ini tidak positif sama sekali, seorang ayah mendorong anaknya untuk merokok – walau sebagai informasi, saya sudah mulai merokok jauh sebelum itu, secara sembunyi-sembunyi. Namun dari sisi hubungan Ayah dan anak, kejadian itu merupakan suatu hal yang membekas dalam ingatan saya.

Sayang segera setelah itu komunikasi di antara kami memburuk, segera saya mulai masuk bangku kuliah. Sekalipun demikian, ingatan saya terhadap kejadian-kejadian itu terus membekas. Dan lepas dari bagaimanapun hubungan antara kami berdua, saya tahu bahwa beliau menyayangi saya dan saya berharap saya bisa menunjukan bahwa saya menyayangi beliau suatu hari nanti …

Advertisements

About this entry