Setengah Kosong dan Setengah Penuh

Gelas Setengah penuh

Jargon yang sering didengung-dengungkan di berbagai acara motivasi. Apakah kita melihat gelas ini setengah penuh atau setengah kosong. Mereka yang mengatakan setengah penuh kemudian dianggap sebagai seorang yang optimistis, sedang mereka yang melihat gelas ini sebagai setengah kosong dianggap sebagai seorang yang pesimistis.

Dua hal yang terlintas dibenak, mengenai hal ini.

Yang pertama, bagaimana kita manusia selalu terikat pada persepsi kita dan melakukan penilaian terhadap persepsi tersebut. Lihatlah kosa kata yang kita gunakan sehari-hari, penuh-kosong, jauh-dekat, mahal murah, dan seterusnya. Pada kenyataanya mereka yang menyatakan gelas itu setengah penuh atau setengah kosong, hanya melihat separuh dari realita. Dan paruhan lain dari realita adalah apa yang tidak mereka nyatakan.

Hal kedua yang terbersit adalah satu hal yang sering diucapkan berulang-ulang oleh seseorang yang sangat saya kagumi,

kita selalu melihat segala sesuatu yang akan terjadi sebagai sesuatu yang sangat mudah atau sangat sulit, padahal ketika kita menjalaninya, ternyata semua biasa saja, tidak terlalu sulit walaupun tidak juga terlalu mudah

Baik kita melihat sesuatu hal yang akan terjadi sebagai sesuatu hal yang sangat berat atau sangat ringan, yang seringkali menjadi efek dari sudut pandang tersebut adalah menghindari dan menunda hal tersebut terjadi. Padahal jika kita memilih menghadapi hal tersebut tanpa pretensi apapun, segera setelah kita menjalaninya, semua akan tampak biasa saja.

Dan lepas dari fakta bahwa nasihat ini sudah berulang kali saya dengar, ternyata saya belum benar-benar menyadari kebenarannya. Meh …

Advertisements

About this entry