The Pursuit of Happiness

Berita hari ini, satpam yang beberapa waktu lalu menendang seorang wanita yang sedang berpura-pura menjadi suster ngesot di Bandung dijadikan tersangka dan terancam hukuman 5 tahun penjara atas tuduhan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan.

Dan kemarin, beberapa teman di timeline, mengeluhkan perlakuan satpam di epicentrum walk yang melarang mereka berfoto-foto di seputaran wilayah mall tersebut.

Ada garis merah antara kejadian tersebut walau dalam skala yang berbeda, dimana sekelompok orang berniat mencari kesenangan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari petugas.

Yang menarik adalah mengamati akibat jangka panjang dari kedua peristiwa tersebut dan reaksi-reaksi kita terhadapnya.

Dalam kasus yang pertama, sang satpam menjadi protagonis dan ditetapkan sebagai tersangka yang terancam hukuman. Dalam kasus kedua sang satpam sejauh yang saya ketahui mendapatkan teguran keras dari manajemen. Disisi lain, si wanita yang menjadi korban penendangan, seketika menjadi si antagonis yang dicacimaki di linimasa, padahal dia mengalami cedera akibat tindakan sang satpam. Sedang mereka yang hendak berfoto-foto di mall tadi protagonis dan satpamnya menjadi antagonis.

Yang saya cermati adalah bagaimana kita melihat para pelakon kedua peristiwa itu, sikap kita terhadap mereka, dan bagaimana sikap tersebut kita terjemahkan menjadi perbuatan.

Yang menarik adalah sudut pandang yang kita gunakan dalan menyikapi kedua peristiwa tersebut. Dalam kasus pertama kita bisa melihat sang satpam sebagai seorang yang sedang menjalankan kewajibannya dan perempuan yang ditendang sebagai orang yang bercanda berlebihan, dan layak untuk kita cacimaki. Dalam kasus kedua kita melihat sang satpam dianggap sebagai antagonis yang menghalangi hak pengunjung mall. Dalam kasus pertama kita bisa memikirkan kelanjutan nafkah sang satpam, dalam kasus kedua kita bersuka cita atas teguran keras yang diterima sang satpam.

Pertanyaan yang mengganggu saya sejak kemarin, adalah apakah ada yang mengetahui implikasi dari apa yang disebut teguran keras yang disampaikan pihak manajemen kepada si satpam. Sekedar teguran? Surat peringatan? Atau pemecatan? Selanjutnya siapakah sesungguhnya yang harus bertanggung jawab atas tindakan sang satpam? Apakah mungkin sang satpam yang memang arogan? Atau mungkinkah pihak manajemen yang tidak memberikan pengarahan yang jelas kepada sang satpam mengenai bagaimana dia harus melaksanakan tugasnya?

Kenapa dalam kasus pertama kita begitu mudah berempati pada sang satpam, padahal dia sudah jelas melakukan kekerasan sedang dalam kasus kedua kita tidak bisa diam sebentar dan mempertimbangkan posisi sang satpam serta implikasi yang mungkin terjadi? Apakah kita mempertimbangkan kemungkinan sang satpam dipecat karena respon kita? Apakah kita mempertimbangkan bagaimana nasib keluarganya?

Pertanyaan yang lebih besar lagi adalah apa batas yang kita gunakan dalam upaya kita mencari kesenangan. Adakah empati termasuk dalam pertimbangan?

Ada yang bersedia memberi saya pencerahan?

Advertisements

About this entry