Tetap Berjalan…

Karena kita terlahir ke dalam dunia dimana tak ada Tuhan untuk mengatur atau bahkan suatu inti perilaku biologis yang menentukan nilai-nilai kita, maka setiap orang yang mampu berpikir benar-benar sendirian dalam menentukan bagaimana harus menjalani hidup. “Manusia dikutuk untuk bebas” adalah kalimat yang saya gunakan untuk situasi ini. Lepas dari segala pengaruh pengkondisian yang membentuk kita, pada akhirnya kembali ke diri kita sendiri secara individual, untuk memutuskan apa yang akan kita lakukan. Bahkan ketika kita meminta saran dari orang lain, kita membuat pilihan personal. Bila kita bertanya pada pemuka agama, kita memilih agama, bila kita bertanya pada seorang professor agnostik, kita memilih humanisme. Kita tidak bisa menghindari memilih suatu alur tindakan. “Kebebasan Radikal” adalah label yang sering digunakan terhadap kondisi ini. “Tidak ada realitas kecuali dalam tindakan” demikian seringkali saya sampaikan. Dan kita tidak bisa menghindari konsekuensi dari tindakan kita.

Penelantaran, Penderitaan dan Keputus-asaan merupakan kata-kata inti dari eksistensialisme atheistik — namun tidak semenyeramkan yang anda mungkin pikirkan. Penelantaran hanya berarti tidak ada Tuhan, karenanya kita berdiri sendiri untuk memilih nasib kita. Penderitaan semata kegelisahan yang kita rasakan saat kita menyadari bahwa kita sendiri yang bertanggung jawab untuk tindakan kita, namun demikian kita tidak bisa menghindarinya. Keputus asaan adalah kesadaran bahwa kita hanya dapat bergantung pada diri kita sendiri — bahwa mereka yang berbagi keyakinan dengan kita dapat berubah arah dan meninggalkan kita.

Lepas dari segala ketidakpastian dan kenihilan dari hidup, setiap orang harus mengembangkan integritas individual dan berjuang untuk meningkatkan kemanusiaan. Tidak ada hukum suci atau universal, namun kita harus mencari sendiri nilai-nilai yang akan kita pegang. Inilah satu-satunya hidup yang asli yang dapat diekspresikan sebagai berikut:

  • Jangan berhenti menyuarakan penggunaan akal budi, sekalipun 900 orang penduduk Jonestown menelan sianida dan memberikannya kepada anak-anak mereka.
  • Jangan pernah berhenti mencari keadilan dan kepantasan — sekalipun sekelompok pembunuh garis kanan memperkosa dan mengutungi perempuan di El-Savador (nama dari negara ini “Sang Penyelamat” menggambarkan ke-irasional-an hidup)
  • Jangan pernah berhenti mencoba menyelesaikan perbedaan antara individu melalui negosiasi logis — sekalipun lebih dari 100 perang lokal terjadi setelah PD II dan menimbulkan banyak penderitaan.
  • Jangan pernah berhenti percaya bahwa lelaki dan perempuan saling membutuhkan, dan bahwa anak-anak membutuhkan orang tua — sekalipun setengah dari pernikahan berakhir dengan perceraian yang pahit dan lebih dari 2000 pria amerika memukuli istrinya sampai mati tiap tahunnya.
  • Jangan pernah berhenti mendukung kebebasan tiap orang untuk mengikuti agama apapun yang mereka pilih, atau tidak sama sekali — sekalipun Muslim Syiah menggantung remaja Baha’i yang tidak mau berpindah agama, atau teroris Katolik memberondong Umat Pentakosta di gereja di Irlandia, atau kaum Sikh membantai Umat Hindu untuk membangun “Tanah yang Murni”
  • Jangan pernah berhenti memperjuangkan keadilan sosial, sekalipun Polisi Texas menenggelamkan orang Mexico di kanal atau Polisi LA menggebuki orang hitam yang melanggar batas kecepatan.

Sekalipun kita menyaksikan kegilaan dan kekejaman dalam setiap aspek hidup, setiap manusia yang mampu berpikir memiliki kewajiban untuk bekerja tanpa henti untuk melawannya. Jika kita gagal melakukannya maka kejahatan akan berkuasa. Sekalipun kita tahu bahwa kematian ada di depan kita, dan kita menyadari bahwa semua upaya terbaik kita akan sia-sia, kita HARUS mencoba. Ini adalah “Perjanjian”

Dalam film berjudul Oh God, terdapat pesan yang agnostik dan humanistik dimana Sang Pencipta bersabda: “Kamu memiliki di Bumi semua yang kamu butuhkan untuk menjalankan kehidupan yang baik. Sekarang terserah pada kalian untuk mewujudkannya.” Ini adalah kewajiban dari semua penganut eksistensialisme — atau setiap orang yang peduli dengan kemanusiaan…

Kutipan terjemahan dari: My Name is Jean Paul

Ya.. sekalipun kita menyaksikan pemerintahan yang korup yang menyengsarakan rakyat, sekalipun kita melihat bagaimana segerombolan preman hendak memaksakan keyakinan mereka kepada rakyat yang lain, sekalipun setiap hari kita menyaksikan penderitaan manusia lain yang ditindas oleh kesewenangan… kita tidak boleh menyerah, harus tetap berjalan dan berjuang untuk apa yang kita yakini sebagai Kemanusiaan.

Advertisements

About this entry