Acceptable Discrimination

Saat masuk ke atas busway, ketika melihat deretan bangku belakang sudah penuh dan bangku depan masih menyisakan beberapa tempat duduk kosong, seorang pria yang baru naik dengan barang bawaan cukup banyak, melangkahkan kakinya ke bagian depan bus dan duduk di salah satu kursi tersebut.

Belum satu menit pria itu duduk, kondektur (?) yang bertugas menegurnya dan menyampaikan bahwa area depan dari bus dikhususkan untuk perempuan dan mempersilahkan pria tersebut untuk berdiri di bagian belakang bus.

Kejadian ini mungkin sering kita lihat, namun pada saat itu yang terlintas di benak saya adalah ini merupakan satu bentuk diskriminasi dan ditegakkan dengan tidak semestinya.

Kondisi yang saya deskripsikan diatas, sebenarnya merupakan bagian dari program yang dilancarkan pengelola bus TransJakarta yang bertajuk “Saatnya Wanita Diutamakan”. Program ini dilancarkan untuk mengurangi jumlah kasus pelecehan terhadap perempuan yang terjadi diatas bus TransJakarta.

Yang menjadi catatan saya adalah, harus disadari benar bahwa program ini sekalipun bertujuan baik (dan saya tidak menyangkal kemungkinan keberhasilannya untuk mengurangi jumlah pelecehan terhadap perempuan) adalah suatu bentuk diskriminasi. Dalam kasus ini, diskriminasi gender, yang terpaksa dilakukan untuk mencegah kejahatan yang lebih besar (pelecehan seks).

Namun demikian, penerapan kebijakan seperti ini, sangat diperlukan kehati-hatian dan program pendamping sedemikian sehingga issue utama yang mengakibatkan diperlukannya diskriminasi positif ini dihilangkan. Dalam contoh kasus ini, dengan penindakan yang tegas terhadap pelaku pelecehan seksual (dimanapun juga) yang mampu menciptakan efek jera bagi pelaku pelecehan seksual dan mampu mencegah terjadinya kasus tersebut.

Juga dalam prakteknya, harus ada kehati-hatian untuk melihat situasi dan kondisi aktual sebelum menerapkan aturan ini. Dalam contoh kasus diatas, pria tersebut membayar sama seperti penumpang lain, baik yang wanita atau pria dan dia berhak mendapatkan pelayanan yang sama. Terlebih lagi dengan kondisinya yang membawa barang yang cukup banyak yang pada gilirannya merepotkan penumpang lain yang ada di sekitarnya.

Sebaik apapun program yang bersifat diskriminasi positif, tetap harus disadari sifat diskriminatif-nya. Dan karenanya tidak boleh menjadi solusi permanen untuk masalah yang terjadi.

Advertisements

About this entry