Why I’m Rising

Bfsg4jaCMAAuvob

Ada beberapa alasan. Salah satunya seperti yang terpampang di gambar diatas. Satu hal yang muncul di benak saya ketika saya akan menuliskan kenapa saya mau mengikuti #OneBillionRising adalah berita tentang pelajar yang diperkosa 15 orang di Lampung, dan dalam kasus tersebut, polisi tidak menahan para tersangka (yang salah satunya adalah anggota legislatif sebuah partai) dan para pengacara yang mendampingi korban mengundurkan diri dengan alasan korban tidak mau bekerja sama.

I’d say “FUCK! FUCK! FUCK!” Kalau kasus yang terjadi adalah maling ayam, bukan pemilik ayam yang diharuskan bekerja sama agar si maling bisa ditangkap, diproses, diadili dan dihukum. Bahkan dalam kasus ekstrim, kalau seorang pencopet tertangkap massa, si pencopet bisa dipastikan babak belur dihajar massa, tanpa perlu si korban bekerja sama. Kenapa jika kasusnya pemerkosaan si korban yang harus bekerja sama? Kenapa tidak para pelaku langsung dicokok, dimasukan sel, dan jika tidak mengaku digebuki agar mau bekerjasama? Bahkan sejauh yang saya tahu, Partai Politik dari salah satu pelaku pun tidak menjatuhkan sanksi atas tindakan anggotanya. Perempuan, siapapun mereka bukanlah warga negara kelas dua yang dapat dan boleh diperlakukan seperti itu.

Alasan ini saja sesungguhnya sudah cukup untuk saya marah, dan mendukung gerakan OneBillionRising ini. Ada juga hal lain yang menjadi alasan saya.

Di web gerakan OneBillionRisingIndonesia ada tulisan ini, jujur saja saya merasa terhina dan saya bisa membayangkan banyak kaum pria yang merasa terhina dengan tulisan ini. Saya, sejauh saya bisa mengingat, tidak pernah melakukan hal yang dituliskan dalam tulisan tersebut (menggoda perempuan yang lewat) Dan saya mengenal banyak pria lain yang juga tidak akan melakukan hal yang sama. Dan hebatnya, atau sialnya, mereka tidak menganggap apa yang mereka lakukan itu spesial, atau karena mereka tercerahkan, atau karena mereka punya pemikiran modern. Perilaku mereka tersebut dilakukan hanya karena kesadaran bahwa begitulah mereka seharusnya memperlakukan manusia lain, apapun jenis kelaminnya.

Namun tidak bisa dipungkiri pula, bahwa masih banyak laki-laki yang melihat perempuan lebih rendah, melihat perempuan sebagai obyek. Seperti 15 orang pelaku pemerkosaan diatas, yang karena merasa lebih berkuasa sehingga merasa bebas memperlakukan perempuan. Atau juga kasus 4 petugas TransJakarta yang menggerayangi penumpang perempuan yang mengalami serangan Asthma di atas bus. Lebih jauh daripada itu, budaya patriarki, dimana lelaki memegang kekuasaan yang lebih dibandingkan perempuan, seperti dalam kasus pemerkosaan, dimana sangat jarang pelaku langsung ditangkap dan dipaksa mengakui kejahatannya seperti misalnya maling ayam. Hal ini terjadi karena dalam perspektif Polisi, laki-laki memang begitu, perempuan lah yang harusnya menjaga diri. Bahkan dalam kasus ekstrim, keluarga korban pemerkosaan/sexual abuse ikut menyalahkan korban, dan dalam kasus pemerkosaan, menerima jalan damai dimana si korban dinikahkan dengan si pelaku.

Yap, this is the world we’re living now. Kaum pria normal dipaksa menerima perlakuan diskriminatif seperti pemisahan tempat duduk di bus TransJakarta dan kereta CommuterLine, semata karena mereka laki-laki. Dan sialnya kita semua tahu, bahwa perlakuan diskriminatif ini perlu diterapkan, untuk menjaga keselamatan penumpang perempuan sekalipun kita tahu bahwa hal ini adalah sia-sia selama perspektif laki-laki busuk dalam melihat perempuan tidak dirubah sebagaimana kita lihat dalam kasus pelecehan oleh petugas bus TransJakarta.

So… I join this movement, untuk mengirimkan pesan, kepada para laki-laki yang masih memperlakukan perempuan sebagai warga negara kelas dua, juga kepada masyarakat yang masih melestariskan pola pikir patriarki: ENOUGH!

Advertisements

About this entry