Buat Bajingan Kebhinnekaan

Okay, ini alasan saya kenapa saya tidak akan membela Ahok dalam kasus penistaan agama. Sebenarnya tidak akan membela juga term yang salah, penolakan terhadap pasal karet penistaan agama ini bukan hal baru. Pasal kampret ini sudah terlalu sering digunakan oleh negara untuk menindas kelas proletar untuk berbagai kepentingan.

Keputusan yang sederhana buat saya pribadi, landasannya: karena kita tidak berada di ruang vacuum dimana sesuatu tidak terjadi dengan sendirinya, dan tidak berdiri sendiri. Dalam berbagai diskusi sudah disebutkan oleh beberapa pembicara, bahwa jelas dalam beberapa kasus Ahok jelas melakukan pelanggaran HAM dalam berbagai kebijakan yang dilaksanakan Pemda DKI, seperti penggusuran dan pemaksaan dilaksanakannya reklamasi. Tapi bukan, bukan itu alasan saya memutuskan untuk tidak menyuarakan pembelaan saya terhadap Ahok.

Permasalahan mendasarnya adalah, suara kita, pembelaan atau penentangan tidak disuarakan di ruang vacum. Dan saya percaya sekecil apapun suara itu, akan ada imbasnya. Dalam kasus Ahok yang kemudian diangkat sebagai masalah kebhinekaan/pluralitas/pluralisme, saya enggan menjadi bagian massa yang mengerucutkan persoalan ini menjadi sekadar masalah Ahok dan penistaan agama semata.

Lebih jauh, kasus penistaan agama yang dituduhkan ke Ahok ini yang kemudian dikerangkai sebagai masalah kebhinekaan, sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari pertarungan kelas. Sungguh aneh bagi saya ketika terjadi kasus dimana anak kristen di padang dipaksa menggunakan jilbab, ketika dana asing masuk dan membangun pesantren-pesantren fundamentalis, ketika patung Buddha di tanjung balai dipaksa pindah karena menyinggung perasaan umat mayoritas, kenapa kemudian fokusnya harus diberikan ke Ahok yang notabene adalah kelas borjuis penguasa birokrat? Siapa yang mengangkat TOA untuk menyuarakan penindasan terhadap kelas proletar yang mengalami hal yang sama?

Yang lebih menjijikan lagi adalah ulah dari sebagian pendukung Ahok yang kemudian mengkerangkai dan membenturkan issue kebhinnekaan ini dengan issue keadilan sosial, semata hanya untuk memenangkan kandidat yang mereka usung. Dan para bajingan tengik ini bahkan tidak segan menyebarkan fitnah, berita bohong untuk mendiskreditkan mereka yang sudah bertahun-tahun berjuang di issue keadilan sosial DAN kebhinnekaan ini semata untuk keuntungan sesaat pemenangan kandidat mereka.

Makhluk-makhluk tolol inilah yang sesungguhnya merupakan ancaman terhadap kebhinnekaan ketika mereka mereduksi issue kebhinnekaan menjadi sekadar issue untuk memenangkan kandidat mereka! Tidak, mereka tidak tolol, mereka CULAS, SERAKAH dan PENINDAS! Mereka tahu persis bahwa issue Kebhinnekaan tidak bisa dilepaskan dari issue Keadilan Sosial, dan issue Keadilan Sosial tidak bisa dilepaskan dari issue Kebhinnekaan. Bajingan-bajingan degil ini membuat kerja keras mereka yang berjuang tanpa suara untuk terus membangun kesadaran kebhinnekaan berantakan dengan mereduksinya demi menjilat pantat borjuasi tengik.

Jadi tidak, saya tidak akan menyuarakan pembelaan saya kepada Ahok. Hormat dan pembelaan saya berikan untuk mereka yang menjadi korban penindasan karena mereka berbeda dan kepada mereka yang tak kenal lelah berjuang membangun kesadaran kebhinnekaan.

Buat para makhluk tolol yang berotak udang yang mempertaruhkan nasib bangsa ini dengan memecah belah warga untuk kepentingan sesaat, GO TO HELL!!!

Advertisements

About this entry